Rabu, 29 Januari 2025

KEMUNDURAN DAULAH UMAYYAH DI ANDALUSIA

Masyarakat Andalusia masih menganggap kehadiran Islam di Negara mereka merupakan ancaman dan juga penjajah bagi mereka, keadaan ini memperkuat nasionalisme masyarakat Kristen Andalusia. Akhirnya setelah kurun waktu tujuh setengah abad Daulah Umayyah berkuasa mulai mengalami masa kelemahan, disamping faktor diatas ada beberapa faktor yang menjadi penyebab runtuhnya Daulah Umayyah di Andalusia:

1.      Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan

Tidak adanya peraturan tentang pola pemilihan dan pengalihan kepemimpinan menyebabkan perebutan kekuasaan diantara ahli waris. Sistem monarki membuat masing-masing ahli waris merasa berhak untuk menjabat sebagai pemimpin setiap ada kekosongan kepemimpinan. Karena faktor itulah muncul kerajaan-kerajaan dan kekuatan kecil di sekitar Andalusia, munculnya Muluk at-Tawaif ini juga yang memperparah keadaan sehingga Granada sebagai pusat kekuasaan Islam terakhir di Andalusia, jatuh ketangan Ferdinand dan Isabella.

2.      Tidak adanya Ideologi Pemersatu

Orang-orang pribumi enggan untuk menerima para muallaf menjadi bagian dari mereka. Akibatnya kelompok etnis non Arab sperti etnis Salvia dan Barbar sering menggrogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosial dan ekonomi negeri tersebut, ini menunjukan tidak adanya idiologi yang member makna persatuan, disamping juga tidak adanya figure yang menjadi pengaut idiologi tersebut.

3.      Keterpurukan Ekonomi

Kegigihan para penguasa mengembangkan ilmu pengetahuan dan sedikit mengabaikan perkembangan perekonomian mengakibatkan timbul kesulitas ekonomi yang memberatkan dan berpengaruh terhadap perkembangan politik dan militer.

4.      Terasing

Islam di Andalusia bagaikan negeri kecil yang terpencil dan terasing, ia jarang mendapatkan perhatian dan bantuan kecuali dari Afrika Utara. Hal ini mengakibatkan tidak ada yang membantu membendung kebangkitan Kristen di wilayah Andalusia. Kekuatan Kristen inilah yang lambat laun mulai menggrogoti Islam di Andalusia.

 

Sumber:

Kementrian Agama Republik Indonesia. 2019. Buku Siswa : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X. Jakarta.


PERKEMBANGAN PERADABAN DAN ILMU PENGETAHUAN MASA DAULAH UMAYYAH DI ANDALUSIA

Abdurrahman ad-Dakhil berhasil meletakkan sendi dasar yang kokoh bagi tegaknya Daulah Umayyah di Andalusia. Selama kurang lebih 32 tahun masa pemerintahannya ia mampu mengatasi berbagai tekanan dan ancaman dari dalam negeri maupun serangan dari luar. Karena ketangguhannya itu ia dijuluki Rajawali Quraisy.

Daulah Umayyah di Andalusia yang dipelopori oleh Abdurrahman Ad-Dakhil berhasil mengalami masa kejayaan selama kurun waktu tujuh setengah abad (756-1492 M) dengan amir-amir sebagai berikut:

1.      Abdurrahman Ad-Dakhil (756-788 M)

2.      Hisyam bin Abdurrahman (788-796 M)

3.      Al-Hakim bin Hisyam (796-822 M)

4.      Abdurrahman al-Ausath (822-852 M)

5.      Muhammad bin Abdurrahman (852-886 M)

6.      Munzir bin Abdurrahman (886-912 M)

7.      Abdurrahman an-Nasir (912-961 M)

8.      Hakam al-Muntasir (961-976 M)

9.      Hisyam II (976-1009 M)

10.  Muhammad II (1009-1010 M)

11.  Sulaiman (1013-1016 M)

12.  Abdurrahman IV (1016-1018 M)

13.  Abdurrahman V (1018-1023 M)

14.  Muhammmad III (1023-1025 M)

15.  Hisyam III (1027-1031 M)

Amir-amir tersebut berkuasa dengan pembagian beberapa periode, dimana periode pertama di mulai sejak Andalusia dikuasai pada masa Daulah Umayyah berpusat di Damaskus. Penguasa Andalusia pada periode kedua adalah, Abdurrrahman Ad-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abdurrahman al-Ausatth, Muhammad bin Abdurrahman, Munzir bin Muhammad dan Abdullah bin Muhammad. Pada periode kedua ini, Daulah Umayyah mengalami kemajuan dalam berbagai bidang.

Periode ketiga berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar an-Nasir. Pada periode ini penguasa mulai memakai gelar Khalifah, khalifah yang memimpin pada periode ketiga ini adalah Abdurrahman an-Nasir, Hakam II dan Hisyam II. Pada perode ini Daulah Umayyah Andalusia mengalami puncak kejayaan menyaingi peradaban Daulah Abbasiyah di Baghdad. Abdurrahman an-Nasir membangun universitas Cordoba dilengkapi dengan perpustakaan yang mempunyai koleksi ribuan buku, pembangunan kota berlangsung sangat cepat, masyarakat mendapatkan kesejahteraan dan kemakmurannya.

Periode keempat terjadi antara tahun 1013-1086 dimana mulai terlihat melemah karena terpecah-pecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil (Mulk at Thawaif) di bawah pemerintahan raja-raja golongan yang berpusat di Seville. Munculnya Mulk at Thawaif ini sangat berpengaruh terhadap eksistensi Daulah Umayyah.

Periode kelima berlangsung dari tahun 1086-1248, pada periode ini muncul kekuatan yang dominan yaitu Daulah Murabithun yang berasal dari Afrika Utara yang sedikit banyak membantu umat Islam di Andalusia dari serangan orang-orang Kristen.

Periode keenam berlangsung dari tahun 1248-1492, pada periode ini kekuasaan Islam hanya di daerah Granada yaitu di bawah kekuasaan Bani Ahmar. Peradaban ini dibangun kembali sehingga sempat mengalami kemajuan seperti pada pemerintahan Abdurrahman an-Nasir. Namun secara politik jangkauan daulah ini hanya berkuasa di wilayah yang sangat kecil, sehingga berakhirlah kekuasaan Daulah Umayyah di Andalusia pada periode keenam.

Selama kurang lebih tujuh setengah abad Daulah Umayyah di Andalusia (Spanyol) berkuasa, banyak prestasi dan kemajuan yang sudah dicapai, bahkan pengaruhnya membawa Eropa kepada kemajuan. Puncak kejayaan Islam di Andalusia terjadi pada periode ketiga (912-1013 M) dimulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang brgelar an-Nasir, pada periode ini Islam di Andalusia mencapai puncak kejayaan dan kemajuan, menyaingi kejayaan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Kemajuan-kemajuan tersebut antara lain:

1.      Ilmu Pengetahuan dan Sains

Spanyol adalah kota yang subur, kesuburannya mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan banyak menghasilkan pemikir-pemikir berkualitas. Masyarakat muslim Spanyol merupakan masyarakat yang majemuk terdiri dari berbagai komunitas, antara lain; al-Muwalladun (orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (orang Islam yang berasal dari Afrika Utara), ash-Shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Burgaria yang menjadi tawanan Jerman dan kemudian dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab. Semua komunitas itu memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra dan pembangunan fisik di Spanyol. Kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang dicapai pada masa ini, antara lain:

a.       Filsafat

Atas inisiatif Hakam II, karya-karya ilmiah dan filsafat diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordoba dengan perpustakaan dan universitasnya yang lengkap mampu menyaingi kemajuan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Tokoh pertama dalam sejarah Filsafat Spanyol adalah Abu Bakar Muhammad ibn as- Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibnu Bajah, ia tinggal di Granada dengan karyanya yang terkenal tadbir al-Mutawahid. Pada masa itu di Timur ada al-Farabi dan Ibnu Sina.

Tokoh kedua adalah Abu bakar Ibnu Tufail yang berasal dari Wady sebuah kota kecil di Timur Granada, ia banyak menulis masalah filsafat, astronomi dan juga kedokteran. Karya filsafatnya yang terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan. Tokoh lain yaitu Ibu Rusyd dari Cordoba, yang menjadi ciri khas dari Ibnu Rusyd adalah kecermatannya dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Karya-karyanya yang terkenal adalah Mabadi Falasifah, Kulliyat, Tafsir Urjuza, Kasfu Afillah. Selain ahli filsafat, ia juga seorang ahli Fikih dengan karya besarnya Bidayah al-Mujtahid, dan karya dalam bidang kedokteran dengan judul al-Hawi.

b.      Sains

Dalam hal sains pada masa ini banyak bermunculan ilmu-ilmu seperti; kedokteran, matematika, kimia, astronomi, dan geografi. Abbas ibn Fams terkenal sebagai ahli dalam ilmu kimia dan astronomi sekaligus sebagai orang yang pertama kali menemukan pembuatan kaca dari batu. Ahmad bin Ibas ahli dalam bidang obat-obatan, dalam ilmu Geografi ilmuwan yang terkenal adalah Ibu Jubair yang menulis tentang Negeri-negeri Muslim Mediterania dan Sicilia. Ibnu Batutah juga salah satu ilmuwan yang terkenal hingga Samudra Pasai dan Cina.

Dalam bidang matematika, melalui buku terjemahan karya Ibrahim al-Fazari, seorang pakar matematika bernama Nasawi berhasil memperkenalkan angka-angka India seperti 0,1,2 hingga 9, hingga angka-angka India di Eropa lebih dikenal dengan angka Arab. Para ahli dalam bidang kedokteran antara lain:

1.      Thabib ibn Qurra’ ia dianggap sebagai bapak ilmu Kimia

2.      Ar-Razi atau Razes, karyanya yang terkenal dalam bidang penyakit campak dan cacar yang diterjemahkan dalam bahasa latin

3.      Ibnu Sina, di Eropa disebut dengan Avicena, selain sebagai filosof juga seorang dokter dan ahli musik. Karyanya yang terkenal adalah Shafa, Najat, Sadidiya, Danes Nomeh dan al-Qanuun fi at-Thib (buku tentang kedokteran yang diterjemahkan kedalam bahasa latin).

c.       Fikih

Dalam bidang fikih, Islam di Spanyol menganut Madzhab Maliki yang diperkenalkan pertama kali oleh Ziyad bin Abd ar-Rahman. Dalam perkembangannya dipegang oleh seorang Qadhi yaitu Ibnu Yahya. Ahli-ahli Fiqh lainnya adalah Abu Bakar ibn al-Quthiyah, Munzir ibn Said al-Baluthi dan Hazm.

d.    Sejarah

Orang yang pertama kali mengemukakan teori perkembangan sejarah adalah Ibnu Khaldun melalui karyanya yang berjudul Muqaddimah. Buku ini menjadi tumpuan studi ilmuwan-ilmuwan barat, beliau juga merupakan perumus filsafat sejarah. Karya-karya Ibu Khaldun mampu memberikan sumbangan dan pengaruh dalam pemikiran-pemikiran ilmuwan barat. Ahli sejarah lainnya adalah Yahya bin Hakam seorang penyair yang dikenal dengan al-Gazzal, juga Abu Bakar Ibn Muhammad yang terkenal dengan Ibn al-Quthiyah dengan karyanya berjudul Tarikh Iftitah al- Andalus memiliki nilai tersendiri, karena penafsirannya mengenai peristiwa- peristiwa di Spanyol yang sebelumnya tidak diketahui oleh orang Arab.

2.      Peradaban dan Pembangunan

Banyaknya peninggalan monumental yang hingga sekarang masih bisa dilihat, menjadi saksi sejarah akan perhatian yang sangat besar dari pemerintahan Daulah Umayyah Andalusia terhadap kemajuan pembangunan fisik, salah satunya adalah sebagai berikut:

a.       Cordoba

Cordoba merupakan ibukota Spanyol sebelum Islam, yang kemudian dikuasai oleh Daulah Umayyah. Kota ini dibangun dan diperindah. Taman dan jembatan dibangun dengan indah di atas sungai yang mengalir di tengah kota. Di sekitar ibukota berdiri istana-istana megah yang semakin mempercantik kota Cordoba. Di Cordoba  dibangun  masjid  raya  Cordoba,  ada  juga  Istana  Damsyik  disana.

Keindahan Cordoba semakin nyata manakala fasilitas-fasilitas umum dibangun dengan rapih dan dilengkapi dengan saluran air yang panjangnya mencapai 80 km. terdapat juga Al-Qasr al-Kabir yang didalamnya terdapat gedung-gedung istana yang megah, Rushafat, merupakan Istana yang dikelilingi oleh taman yang berada disebelah barat laut Cordoba.

b.      Granada

Granada merupakan pusat pertahanan terakhir umat Islam di Spanyol. Arsitektur bangunannya sangat terkenal di seluruh Eropa. Disana terdapat Istana al-Hambra yang indah dan megah merupakan pusat dan puncak ketinggian arsitektur di Spanyol kala itu. Kisah tentang kemajuan seni arsitektur terlihat juga dengan bangunan istana-istana megah lainnya seperti, Istana al-Gaza, Menara Girilda, al- Zahra kota satelit di bukit Sierra Monera, kota ini dilengkapi dengan masjid tanpa atap dan air mengalir ditengah masjid sangat unik dan indah.

Kemajuan yang dicapai di Andalusia bukan datang dengan tiba-tiba, melainkan banyak faktor yang menjadi pendukungnya, yaitu:

1.      Heterogenitas komposisi masyarakat tadi Andalusia mendorong terciptanya iklim intelektual yang maju. Islam datang dengan semangat toleransi yang begitu tinggi, dengan semangat itu telah mengakhiri kezaliman keagamaan yang sudah berlangsung sebelumnya.

2.      Adanya semangat kesatuan budaya Islam yang timbul pada pemikiran ulama dan para ilmuwan.

3.      Persaiangan antara Mulk at-Tawaif (kerajaan-kerajaan kecil) justru menyebabkan perkembangan peradaban di sekitar Cordoba. Semuanya bersaing ingin menandingi Cordoba dalam hal ilmu pengetahuan, satra, seni dan kebudayaan.

4.      Adanya dorongan dari para penguasa yang mempelopori kegiatan ilmiyah, sehingga muncul ilmuwan-ilmuwan yang kompeten dalam bidangnya.

 

Sumber:

Kementrian Agama Republik Indonesia. 2019. Buku Siswa : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X. Jakarta.

SEJARAH LAHIRNYA DAULAH UMAYYAH DI ANDALUSIA

 

Masuknya Islam ke Andalusia menjadi angin segar bagi perkembangan Islam sekaligus menjadi awal masuknya Islam ke beberapa wilayah lainnya seperti Cordoba, Granada dan Toledo, ibukota pemerintahan Spanyol. Penaklukkan Andalusia ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M) yang merupakan khalifah ke enam Daulah Umayyah di Damaskus. Jatuhnya Andalusia dan beberapa kota penting di negeri itu, membuka jalan baru bagi upaya umat Islam untuk menyebarkan Islam ke seluruh Eropa. Secara singkat dapat dijabarkan proses lahirnya Daulah Umayyah di Andalusia sebagai berikut:

1.      Penaklukan Andalusia

Sebelum Islam masuk ke Andalusia, Islam sudah telebih dahulu berkembang di Afrika Utara. Afrika Utara dijadikan sebagai salah satu provinsi dari Daulah  Umayyah di Damaskus. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara terjadi pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M). pada perkembangan selanjutnya ditunjuklah  Musa  bin  Nusair sebagai  gubernur  di  Afrika  Utara. Sebelum dikuasai Islam, kawasan Afrika Utara telah menjadi basis kekuasaan Kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothic.

Setelah kawasan Afrika Utara benar-benar dapat dikuasai Islam dan menyatakan kesetiaannya terhadap pemerintahan Musa bin Nusair, umat Islam mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukan Andalusia. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi pasukan muslim untuk menaklukan Andalusia.

Proses penaklukan Andalusia melalui tahapan yang sangat panjang. Musa bin Nusair sebagai Gubernur Afrika Utara mengutus Tharif bin Malik untuk menyelidiki keadaan Andalusia saat itu. Tharif membawa pasukan perang dan 500 pasukan berkuda dan melintasi selat yang terletak diantara Maroko dan Benua Eropa. Dalam ekspedisi ini Tharif dibantu oleh Raja Julian dengan menaiki empat buah kapal milik Raja Julian, dan sukses tanpa perlawanan yang berarti.

Melihat keberhasilan Tharif bin Malik dan pasukannya, maka Musa Bin Nusair kembali melakukan ekspedisi ke Spanyol dengan membawa pasukan dalam jumlah yang lebih besar, yaitu 7000 ribu pasukan di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Pasukan Thariq bin Ziyad sebagian besar terdiri dari suku Bar-bar yang didukukng oleh Musa bin Nusair dan orang-orang Arab yang dikirim oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik.

Thariq bin Ziyad membawa pasukannya menyebrangi selat yang kemudian terkenal dengan selat Gibraltar (Jabal Thariq). Thariq berhasil dengan gemilang dan berturut-turut berhasil menaklukan berbagai wilayah penting di Eropa seperti Cordoba, Granada dan Toledo (ibukota kerajaan Gothic saat itu).

Dengan ditaklukkannya Andalusia, maka periode pertama Pemerintahan Daulah Umayyah Andalusia dimulai, dengan pusat pemerintahan di Damaskus. Periode pertama ini Andalusia berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Daulah Umayyah yang masih berpusat di Damaskus.

Pada periode pertama ini, situsai politik dan perekonomian belum tertata dengan baik. Sering terjadi konflik internal yang mengakibatkan melambatnya kemajuan di segala bidang. Konflik internal yang terjadi disebabkan antara lain oleh perbedaan etnis dan golongan juga terdapat perbedaan pandangan antara khalifah yang berpusat di Damaskus dengan Gubernur Afrika Utara. Periode pertama ini, Islam di Andalusia belum memasuki kegiatan pembangunan dalam bidang peradaban dan kebudayaan.

2.      Peran Abdurrahman I

Keruntuhan Daulah Umayyah di Damaskus dan digantikan oleh Daulah Abbasiyah di Baghdad, menyisakan satu orang keturunan dari Daulah Umayyah yaitu Abdurrahman I yang bergelar ad-Dakhil. Abdurrahman ad-Dakhil berhasil lolos dari kejaran tentara Bani Abbasiyah yang berhasil menaklukkan Daulah Umayyah di Damaskus.

Islam mulai babak baru dengan datangnya Abdurrahman ad-Dakhil ke Andalusia. Abdurrahman mengambil kekuasaan di Andalusia pada masa Gubernur Yusuf al-Fihr. Ia kemudian memproklamirkan berdirinya Daulah Umayyah di Andalusia sebagai kelanjutan dari Daulah Umayyah di Damaskus. Oleh ahli sejarah periode ini disebut dengan periode kedua pemerintahan Daulah Umayyah, periode kedua ini terjadi  antara tahun 755-912 M.

Pada periode ini umat Islam dibawah kekuasaan para Amir dan mulai memperoleh kemajuan, baik dalam bidang politik maupun peradaban. Amir pertama pada periode kedua ini adalah Abdurrahman ad-Dakhil. Ia berhasil membawa kegemilangan Islam dan sukses mendirikan masjid Cordoba dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Andalusia.

 

Sumber:

Kementrian Agama Republik Indonesia. 2019. Buku Siswa : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X. Jakarta.

Sabtu, 11 Mei 2024

KEMUNDURAN DAULAH UMAYYAH DI DAMASKUS

 

Sepeninggal Umar bin Abdul Aziz, tampuk kepemimpinan dilanjutkan oleh Yazid bin Abdul Malik. Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam kenyamanan dan ketentraman juga kedamaian berubah menjadi kacau. Masyarakat menyatakan

konfrontasi terhadap pemerintahan Yazid bin Abdul Malik yang cenderung hidup dalam kemewahan dan kurang memperhatikan kepentingan rakyat.

Kekacauan ini terus berlanjut hingga khalifah terakhir Daulah Umayyah, Marwan bin Muhammad yang pada akhirnya meninggal di Mesir. Meninggalnya Marwan bin Muhammad menjadi penanda berakhirnya kekuasaan Daulah Umayyah yang akhirnya digantikan oleh kekhalifahan Daulah Abbasiyah.

Beberapa faktor yang mengantarkan Daulah Umayyah pada kehancuran antara

lain:

1.             Ketidak puasan pemeluk Islam non Arab, atau sering disebut dengan Mawali. Kaum Mawali pada masa Daulah Umayyanh merasa dimarginalkan dengan tidak mendapat hak yang sama dalam hal tunjangan dan beberapa hak lain yang tidak dikabulkan oleh pemerintahan Daulah Umayyah.

2.             Sistem pemilihan Khalifah melalui garis keturunan (monarchi heredities) merupakan sesuatu yang baru bagi Bangsa Arab, system ini pada prakteknya sering menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat untuk berebut kekuasaan dikalangan keluarga, dan terkadang tidak melalui pertimbangan matang berkaitan dengan faktor pengalaman dan usia.

3.             Terjadinya persaingan antara kelompok suku Arab Mudariyah (Arab Utara) dan suku Arab Himyariyah (Arab Selatan), Daulah Umayyah cenderung memebela kepada salah satu pihak tersebut.

4.             Konflik-konflik dari beberapa golongan yang melatar belakangi terbentuknya Daulah Umayah pada masa awal pembentukan seperti kaum Sui’ah, Khawarij yang terus berkembang menjadi gerakan oposisi yang semakin kuat dan mengancam kedaulatan Daulah Umayyah.

5.             Menguatnya kekuatan Abbasiyah dari keturunan Bani Hasyim.

PERKEMBANGAN PERADABAN DAN ILMU PENGETAHUAN DAULAH UMAYYAH DI DAMASKUS

Berbagai kebijakan yang diambil semasa pemerintahan Daulah Umayyah di Damaskus sedikit banyak berdampak kepada kemajuan dalam berbagai bidang. Muawiyyah dan keturunannya tidak saja dikenal sebagai pahlawan dalam ekspansi besar- besaran dunia Islam, tetapi juga dikenal sebagai pembaharu, baik dalam bidang politik, ekonomi, kemasyarakatan dan ilmu pengetahuan. Berbagai kebijakan penting pada masa Daulah Umayyah antara lain:

1.             Penduduk-penduduk diluar Jazirah Arab sangat memerlukan berbagai penjelasan secara sistematis dan kronologis tentang Islam, dan ilmu-ilmu yang berkembang saat itu; Hadits, tafsir, fiqh, usul fiqh, ilmu kalam, Tarikh dan lain sebagianya. Untuk kepentingan itu maka mulai dikembangkan ilmu-ilmu agama tersebut melalui terjamahan dan berbagai karya lainnya.

2.             Menetapkan Bahasa Arab sebagai bahasa Umat, dan berlaku bagi pengembangan administrai pemerintahan maupun keilmuan lainnya.

3.             Mengangkat keturunan orang-orang Arab sebagai pemimpin di seluruh wilayah yang berhasil mereka taklukkan.

Perkembangan peradaban masa Daulah Umayyah mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan sampai pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik (660 M – 743 M). kemajuan-kemajuan tersebut meliputi berbagai bidang sebagai berikut:

1.          Bidang Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan semakin berkembang setelah bangsa-bangsa Persia, Syiria, dan negeri lainnya masuk Islam. Terjadi akulturasi budaya dan perkawinan silang diantara mereka. Pada masa ini ada dua aspek ilmu pengetahuan yang berkembang yaitu: ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum. Kedua ilmu pengetahuan itu semakin berkembang setelah Daulah Umayyah berhasil menguasai Spanyol, Afrika Utara, Palestina, Semenanjung Arabia, daerah Rusia dan kepulauan yang terdapat di Laut Tengah, Chyprus, Rhoders dan sebagian Sicillia.

2.          Bidang Ekonomi dan Adminitrasi Pemerintahan

Dengan meluasnya wilayah yang ditaklukkan, maka memungkinkan eksploitasi potensi ekonomi dan sumber daya alam semakin besar. Keadaan itu berimbas kepada semua biaya oprasional di setiap propinsi dipenuhi dari pemasukan lokal, seperti untuk urusan adminstrasi lokal, belanja tahunan Negara, gaji pasukan, dan berbagai bentuk layanan masyarakat dan sisanya dimasukan kedalam kas negara. Daulah Umayyah sudah membentuk organisasi ketetanegaraan meliputi:

a.                An-Nidhamus Siyasi; yaitu organisasi politik yang meliputi kekhalifahan berubah dari sistem syura’ menjadi system monarki. Al-Kitabah atau sekretaris Negara terdiri dari Kitabur Rasail, Kitabul Kharraj, Kitabul Jundi, Kitabus Syurtah dan yang baru adalah al-Hijabah (pengawal khalifah)

b.               An-Nidzamul Idari; Organisasi Tata Usaha Negara terdiri dari Ad-Dawawin, yaitu kantor pusat yang bertugas mengurus tata usaha negara yang terdiri dari Diwanul Kharraj, Diwanul Rasail, Diwanul Mustagilat al-Mutanawiyah dan

Diwanul Katibi.

c.                An-Nidzamul Mal; organisasi keuangan

d.               An-Nidzamul Harbi; organinasi pertahanan

e.                An-Nidzamul Qadha’i; organisasi kehakiman

3.          Bidang Pembangunan Kota

Pusat peradaban Daulah Umayyah di Damaskus terletak di beberapa kota sebagai berikut:

a.           Kota Damaskus

Damaskus menjadi pusat pemerintahan Islam sejak masa kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Pada masa itu Damaskus menjadi kota paling besar dan paling megah di wilayah pemerintahan Islam. kota Damaskus memiliki delapan pintu gerbang yang dilengkapi dengan menara tinggi, sehingga jika akan mengunjunginya, menara-menara itu sudah terlihat dari kejauhan. Pada masa Al- Walid kota Damaskus dipercantik lagi dengan berbagai fasilitas umum sehingga menjadi buah bibir pada masa itu.

b.          Kota Qairawan

Kota Qairawan dibangun oleh gubernur Afrika Utara Uqbah bin Nafi al-Fihri yang diangkat oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Uqbah membangun Qairawan sebagai benteng perlindungan bagi pasukan tentara kaum muslimin dan harta kekayaannya dari serangan musuh, Qairawan yang letaknya jauh dari pantai menjadikan kaum muslimin merasa aman dari serangan tentara Romawi.

4.          Bidang Pendidikan

Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a.                Kedokteran

Ahli kedokteran pada masa Daulah Umayyah adalah Abu al-Qasim al Zahrawi. Beliau dikenal sebagai ahli bedah, perintis ilmu penyakit telinga, dan pelopor ilmu penyakit kulit. Karyanya yang terkenal berjudul al- Ta’rif li man ‘Ajaza ‘an al Ta’lif yang pada abad XII diterjemahkan oleh Gerard of Cremona dan dicetak ulang di Genoa (1497M). Buku tersebut menjadi rujukan di universitas- universitas terkemuka di Eropa, di dunia Barat Abu al Qasim dikenal dengan sebutan Abulcasis.

b.               Sejarah

Salah satu tokoh terkenal dalam bidang sejarah antara lain; Abu Bakar bin Umar, atau nama lainnya ibn Qithiyah dengan karyanya berjudul Tarikhh iftitah al- Andalus. Abu Marwan Abdul Malik bin Habib dengan karyanya yang terkenal berjudul al-Tarikh.

c.                Bahasa dan Sastra

Tokoh terkenal pada masa ini antara lain; Abu Amir Abdullah, karyanya dalam bentuk prosa berjudul Risalah al Awabi wa al Zawawi, Kasyf al Dakk wa Azar al- Syakk dan Hanut Athar. Ali al_Qali, karyanya yang terkenal al-Amali dan al- Nawadir. Abu Amr Ibn Muhammad dengan karyanya al ‘Aqd al Farid.

d.               Kimia

Ahli kimia terkenal pada masa ini adalah Abu al-Qasim Abbas ibn Famas, beliau mengembangkan ilmu kimia murni dan kimia terapan yang merupakan dasar bagi ilmu farmasi yang erat kaitannya dengan ilmu kedokteran.

e.                Ilmu-ilmu Naqli

Ilmu-ilmu Naqli ini meliputi: ilmu Qira’at, ilmu Tafsir, ilmu hadits, ilmu fikih, ilmu nahwu, ilmu bahasa dan kesesastraan. Dalam ilmu Qira’at pada masa ini termasyhur tujuh bacaan al-Qur’an yang terkenal dengan istilah Qira’ah Sab’ah yang kemudian ditetapkan menjadi dasar bacaan, yaitu cara bacaan yang dinisbatkan kepada cara membaca yang dikemukakan oleh tujuh orang ahli Qira’at. Ahli ilmu Tafsir pada masa ini adalah Ibnu Abbas, ahli ilmu Hadits Muhammad bin Syihab az-Zuhri, Hasan Basri. Sementara itu ahli ilmu Nahwu dan merupakan penyusun buku ilmu Nahwu yang pertama adalah Abu Aswad ad- Dualy, beliau belajar kepada Ali bin Abi Thalib sehingga beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa bapak ilmu nahwu adalah Ali bin Abi Thalib. Pada akhir periode Umayyah melahirkan sejumlah mujtahid dan muncul dua tokoh imam madzhab yaitu Imam Abu Hanifah di Kuffah dan Imam Malik di Madinah. Sementara Imam Syafi’i dan Imam Hambali lahir pada masa pemerintahan Abbasiyah.

5.          Bidang Arsitektur

Salah satu orientasi pemerintahan Daulah Umayyah adalah pengembangan wilayah kekuasaan. Orientasi ini tidak kemudian melupakan kemajuan-kemajuan dalam bidang yang lain, perkembangan ilmu pengetahuan berjalan dengan sangat pesat. Demikian juga perkembangan dalam bidang seni arsitektur, salah satu kemajuan seni arsitektur yang dicapai pada masa Daulah Umayyah adalah berdirinya masjid Umayyah di Damaskus dan Masjid Baitul Maqdis di Yerussalem atau yang terkenal dengan Kubah al-Sakha yang didirikan pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Disamping itu beberapa peninggalan seni arsitektur menunjukan ketinggian peradaban pada masa itu, misalnya; Masjid Agung di Kufah, Masjid Batu Karang, Istana Aljaferia di Saragosa dan lain lain.

6.          Bidang Militer

Pada masa ini kemajuan militer bangsa Arab telah mencapai kemajuan signifikan. Mereka mempelajari berbagai ilmu kemiliteran dari banyaknya ekspedisi militer yang meraka lakukan termasuk dari metode militer Romawi. Muawiyah melakukan perubahan besar dan menonjol di dalam pemerintahannya dengan mengandalkan angkatan daratnya yang kuat dan efisien.

 

Sumber: Kementrian Agama Republik Indonesia. 2019. Buku Siswa : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X. Jakarta.