Selasa, 04 Agustus 2020

KHALIFAH-KHALIFAH DAN PERIODISASI KEPEMIMPINAN SERTA PENYEBARAN DAULAH ABBASIYAH

A.        Khalifah-khalifah Daulah Abbasiyah

Pemerintahan Daulah Abbasiyah terbagi menjadi lima periode. Dalam setiap periode terjadi perubahan pemegang kekuasaan, sistem pemerintahan dan kebijaksanaan militer. Selama kurang lebih lima setengah abad (kurang lebih 505 tahun ) pemerintahan Daulah Abbasiyah dipimpin oleh 37 orang khalifah. Berikut ini adalah para Khalifah yang memberikan peranan penting dalam perjalanan panjang Daulah Abbasiyah.

1.                      Abul Abbas As-Safah (750-754 M)

Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, merupakan Khalifah pertama pemerintahan Daulah Abbasiyah. memiliki garis nasab yang menisbatkan dirinya kepada Hasyim, buyut Nabi Muhammad Saw. As-Safah merupakan Khalifah pertama pemerintahan Daulah Abbasiyah.

Kemenangan yang didapatkan atas Daulah Umayyah, menjadikan Daulah Abbasiyah secara otomatis menggantikan pemerintahan sebelumnya. Para pendukung Daulah Abbasiyah diwakili dalam pemerintahan baru. Orang-orang Yahudi, Kristen Nestorian, dan Persia diwakili secara baik dalam pemerintahan Abu al-Abbas dalam

meneruskan  administrasi pemerintahan Daulah Abbasiyah. Dalam  masa  pemerintahan As-Safah juga didirikan pabrik kertas pertama di Samarkand.

Abu al-Abbas adalah seorang revolusioner yang bisa menaungi kaum non- Muslim dan non-Arab. Sangat berbeda dengan Daulah Umayyah yang menolak pasukan dari 2 golongan itu. Pada masa pemerintahannya, saat pasukan Abbasiyah menguasai Khurasan dan Irak, dia keluar dari persembunyiannya dan dibaiat sebagai Khalifah pada tahun 132 H/ 749 M. Setelah itu dia mengalahkan Marwan bin Muhammad dan mengakhiri pemerintahan Daulah Umayyah pada tahun yang sama. Abul Abbas As Saffah wafat pada tahun 136 H/753 M dalam usia yang masih sangat muda.


2.                       Abu Ja’far Al Manshur (754-775 M)

Abu Ja’far Al-Manshur menjadi Khalifah kedua Daulah Abbasiyah meneruskan khalifah sebelumnya Abul Abbas As-Saffah. Abu Ja’far Al Manshur merupakan putra Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib, masih saudara kandung Ibrahim Al- Imam dan Abul Abbas As-Saffah. Ketiganya merupakan pendiri Daulah Abbasiyah.

Abu Ja’far sedang menunaikan ibadah haji bersama Abu Muslim Al- Khurasani ketika Khalifah Abul Abbas As Saffah meninggal. Adapun yang pertama

kali dilakukan Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur setelah dibaiat menjadi Khalifah pada 136 H/ 754 M adalah mengatur politik dan siasat pemerintahan Daulah Abbasiyah. Jalur-jalur pemerintahan ditata rapi dan cermat, sehingga pada masa pemerintahannya terjalin kerjasama erat antara pemerintah pusat dan daerah. Begitu juga antara lembaga-lembaga lain yang ada pada waktu itu.

Selama masa kepemimpinannya, kehidupan masyarakat berjalan tenteram, aman dan makmur. Stabilitas politik dalam negeri cenderung aman dan terkendali, tidak ada gejolak politik dan cenderng stabil. Khalifah Abu Ja’far  Al-Manshur sangat hati-hati dalam melangkah dan mengambil sikap terhadap pihak-pihak yang berseberangan dengan kebijakan khalifah.

Khalifah Abu Ja’far Al Manshur berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji di penghujung tahun 158 H. Namun dalam perjalanan ia sakit lalu meninggal dunia. Ia wafat dalam usia 63 tahun dan menjadi Khalifah selama 22 tahun. Jenazahnya kemudian dibawa dan dikebumikan di Baghdad.

3.                       Muhammad Al-Mahdi

Muhammad Al-Mahdi bin al-Mansur dibaiat menjadi Khalifah sesuai dengan wasiat ayahnya pada tahun 158 H/774 M. Muhammad Al-Mahdi dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan dan pemurah. Pada masa pemerintahannya, kondisi dalam negeri saat itu sangat stabil, dan tidak ada satu gerakan penting dan signifikan di masanya.

Muhammad Al-Mahdi berhasil mencapai kemenangan-kemenangan atas orang-orang Romawi. Dibantu anaknya, Harun Ar-Rasyid adalah panglima Penakluk Romawi. Dia sampai ke pantai Marmarah dan berhasil melakukan perjanjian damai dengan Kaisar Agustine yang bersedia untuk membayar jizyah pada tahun 166 H/ 782 M. Muhammad Al-Mahdi meninggal pada tahun 169 H/785 M. Muhammad Al- Mahdi tercatat memerintah selama 10 tahun beberapa bulan.

4.                       Harun Al-Rasyid

Harun Ar Rasyid bin al-Mahdi adalah mutiara sejarah Daulah Abbasiyah. Harun Ar-Rasyid dikenal sebagai sosok yang sangat pemberani. Meski berasal dari Daulah Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid dikenal dekat dengan keluarga Barmak dari Persia (Iran). Pada masa ke-Khalifahan Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam), di mana saat itu Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia. Perhatian Khalifah Harun Ar-Rasyid yang begitu besar terhadap kesejahteraan rakyat serta kesuksesannya mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, tekonologi, ekonomi, perdagangan, politik, wilayah kekuasaan, serta peradaban Islam.

Harun Ar-Rasyid memimpin selama 23 tahun (786 M - 809 M). Dalam kepemimpinanannya Harun Al-Rasyid mampu membawa dinasti yang dipimpinnya ke puncak kejayaan. Ada banyak hal yang patut ditiru para pemimpin Islam di abad ke-21 ini dari sosok khalifah besar ini. Sebagai pemimpin, dia menjalin hubungan yang harmonis dengan para ulama, ahli hukum, penulis, qari, dan seniman.

Harun Ar-Rasyid menjadi Khalifah saat berusia cukup muda, yaitu 22 tahun, dan wafat dalam usia yang juga masih muda, yaitu 45 tahun. Saat dia wafat pada tahun 193 H/808 M negara dalam keadaan makmur dengan memiliki kekayaan 900 juta dirham.

 

B.         Periodesasi Kepemimpinan Daulah Abbasiyah

Perkembangan Fase Pemerintahan dan kepemimpinan Daulah Abbasiyah terbagi ke dalam lima periode. Dalam setiap periode terjadi perubahan pemegang kekuasaan, sistem pemerintahan dan kebijaksanaan militer. Selama hampir enam abad para khalifah yang memegang kepemimpinan Daulah Abbasiyah ada 37 orang khalifah.

1.                        Periode pertama (Pengaruh Persia Pertama/ Fase Pembentukan)

Periode perdana Daulah Abbasiyah mulai tahun 132 H atau 750 M sampai tahun 232 H atau 847 M. Sejak awal berdiri sampai pemerintahan ke sembilan Abu Ja’far Al-Watsiq, periode ini disebut juga pengaruh Persia pertama. Hal itu disebabkan pemerintahan Daulah Abbasiyah dipengaruhi dengan sangat kuat oleh keluarga dari bangsa Persia, yaitu keluarga Barmah.

Usaha militer merupakan kebijakan yang terus menerus dilakukan oleh para khalifah Daulah Abbasiyah sejak yang pertama hingga khalifah terakhir. Khalifah Daulah Abbasiyah pada periode pertama adalah sebagai berikut:

a.                          Abu Abbas As-Saffah (132 H/750M-136 H754 M)

b.                         Abu Ja’far Al-Mansur (136 H//754 M -158 H/775 M)

c.                          Muhammad Al-Mahdi (158 H/775 M-169 H/785 M)

d.                         Musa Al-Hadi (169 H/785 M-170 H/786 M)

e.                          Harun Ar-Rasyid (170 H/786 M-193 H/809 M)

f.                            Abdullah Al-Amin (193 H/809 M-198 H /813 M)

g.                          Abdullah Al-Makmun (198 H/813 M-218 H/833 M)


h.                         Al Mu’tashim Billah (218 H//833 M-227 H/842 M)

i.                             Abu Ja’far Al-Watsiq (227 H/842 M-232 H/847 M)

Tercatat dalam sejarah bahwa periode pertama menjadi masa keemasan dan kejayaan Daulah Abbasiyah. Walaupun demikian, bibit kemunduran Daulah Abbasiyah sudah muncul pada akhir periode ini. Khalifah Al-Watsiq merupakan khalifah terakhir pada periode pertama. Kebijakannya yang paling krusial adalah mengangkat wakil dari seorang perwira Turki bernama Asyam.

2.                        Periode kedua (Pengaruh Turki Pertama)

Periode ini berlangsung tahun 232 H/847 M-334H/946 M). Sejak khalifah Al-Mutawakkil sampai berdirinya Daulah Buwaihiyah di Bagdad, dan pengaruh Turki pertama. Disebut demikian karena tentara Turki menjadi tentara Daulah Abbasiyah sangat mendominasi pemerintahan.

Khalifah Daulah Abbasiyah pada periode kedua:

a.      Al-Mutawakil (232 H/847 M-247 H/861 M)

b.     Al-Muntshir (247 H/861 M-248 H/862 M)

c.      Al-Mus`tain (248 H/862 M-252 H/866 M)

d.     Al-Mu`taz (252 H/866 M-255 H/869 M)

e.      Al-Muhtadi (255 H/869 M-256 H/870 M)

f.      Al-Mu`tamid (256 H/870 M-279 H/892 M)

g.     Al-Mu`tadhid (279 H/892 M-289 H/902 M)

h.     Al-Muktafi (289 H/902 M-295 H/908 M)

i.       Al-Muqtadi (295 H/908 M-320 H/932 M)

j.       Al-Qohir (320 H/932 M-322 H/934 M)

k.     Ar-Rodhi (322 H/934 M-329 H/ 941 M)

l.       Al-Muttaqi (329 H/941 M-333 H/945 M)

m.   Al-Mustaqfi (333 H/945 M-334 H/946 M)

Pada periode ini kebijakan para khalifah banyak dipengaruhi oleh orang- orang Turki, mulai periode ini sampai periode ke-empat, peranan Khalifah dalam pemerintahan mulai berkurang. Demikian halnya dengan kegiatan keagamaan, kegiatan kajian keilmuan sudah mulai berkurang, tidak seperti pada masa periode pertama.

3.                        Periode ketiga (Pengaruh Persia Kedua)

Daulah Abbasiyah periode ini dimulai tahun 334 H/946 M-464 H/1075 M. Sejak berdirinya Daulah Buwaihiyah sampai masuknya Seljuk ke Bagdad. Periode


ini disebut juga periode Persia kedua. Disebut demikian karena pada waktu ini golongan dari bangsa Persia berperan penting dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah, yaitu Daulah Buwaihiyah. Khalifah Daulah Abbasiyah pada periode ketiga:

a.      Al-Muktafi (334 H/944 M-336 H/946M)

b.     Al-Muti (334 H/946 M-363 H/974M)

c.      At-Tho`i (363 H/974 M-381 H/991M)

d.     Al-Qodir (381 H/991 M-422 H/1031M)

Pada periode ini kondisi politik sering tidak stabil karena sering terjadi kemelut dalam pergantian kepemimpinan diantara para penguasa Daulah Buwaihiyah. Pada masa itu, para khalifah bahkan kehilangan legitimasi keagamaannya. Posisi mereka sebagai khotib shalat Jum’at banyak diserahkan kepada orang-orang dari kalangan Buwaihiyah.

4.                        Periode keempat (Pengaruh Persia Kedua)

Daulah Abbasiyah pada periode ini berlangsung dari tahun 464 H/1075 M- 623 H/1225 M. Sejak masuknya orang-orang dari Daulah Seljuk di Bagdad dipengaruhi oleh bangsa Turki kedua, disebut demikian karena pada waktu itu golongan dari bangsa Turki berperan penting dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah, yakni Daulah Seljuk.

Khalifah Daulah Abbasiyah pada periode keempat:

a.      Al-Qoyyim (422 H/1031 M-467 H/1075M)

b.     Al-Muqtadi (467 H/1075 M-487 H/1094M)

c.      Al-Mustazhir (487 H/1094 M-512 H/1118M)

d.     Al-Musytarsid (512 H/1118 M-529 H/1135M)

e.      Al-Rasyid (529 H/1135 M-530 H/1136M)

f.      Al-Muktafi (530 H/1136 M-555 H/1160M)

g.     Al-Mustaujid (555 H/1160 M-566 H/1171M)

h.     Al-Mustadi (566 H/1171 M-575 H/1180M)

i.       An-Nashir (575 H/1180 M-622 H/1125M)

 

Periode ini merupakan akhir dari Daulah Seljuk, Khawarizm Syah telah mengakhiri Daulah ini. Para khalifah Daulah Abbasiyah memiliki kekuasaan penuh dalam bidang politik dan keagamaan, hanya saja wilayah kekuasaaannya tidak seluas masa sebelumnya, karena hanya meliputi wilayah Iraq dan sekitarnya.

5.                        Periode kelima (Masa Keruntuhan)

Periode ini di mulai tahun 623 H/1225 M-656 H/1258 M dan tidak lagi dipengaruhi oleh pihak manapun, namun kekuatan politik dan militer Daulah Abbasiyah sudah lemah sehingga kekuasaan mereka tinggal meliputi wilayah Irak dan sekitarnya saja. Daulah Abbasiyah runtuh pada tahun 1258 M karena ditaklukkan oleh tentara Mongol yang dipimpin Hulaqu Khan.

Khalifah Daulah Abbasiyah pada periode kelima:

a. Az-Zahir (622 H/1225 M -623 H/1226M)

            b. Al-Mustanshir (623 H/1226 M-640 H/1242M)

            c. Al-Musta`shim (640 H/1242 M-656 H/1258M)

Berakhirnya Daulah Abbasiyah datang seiring serangan Hulaqu Khan pada tahun 1258 M. Kota Bagdad dan berbagai peninggalan bersejarah dihancurkan. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Daulah Abbasiyah.


C.        Penyebaran Wilayah Islam Pada Masa Daulah Abbasiyah

Perkembangan Islam pada masa pemerintah Daulah Abbasiyyah, meliputi sekitar kerajaan-kerajaan Islam yang besar, yaitu Daulah Umayyah di Andalusia yang dipimpin oleh Abdurrahman Ad-Dakhil dan penguasa keturunan Daulah Umayyah. Dengan adanya kekuasaan Islam di Andalusia (Eropa) berarti wilayah dakwah Islam semakin luas.

Di bawah kekuasaan Daulah Abbasiyah, daerah-daerah yang ditaklukkan dikembangkan menjadi pusat-pusat peradaban Islam, seperti Baghdad, Isfahan, Tabaristan, Ghasnah, Halab, Bukhara dan lainnya. Pada beberapa kota tersebut juga sering terdapat bangunan Istana para raja atau amir yang menguasai daerah tersebut. Peradaban Islam pun mengalami kemajuan yang cukup pesat, karena para penguasanya peduli terhadap perkembangan dan kemajuan ilmu pengatahun.

Daulah Abbasiyah tidak hanya menguasai wilayah tertentu, para Khalifah menjadikan daerah kekuasaaanya sebagai pilar berkembanganya peradaban dan ilmu pengetahuan. Sehingga bisa dirasakan adanya perbedaan dan kemajuan setelah dikuasai Islam dibandingkan pada masa sebelum kedatangan Islam. Wilayah-wilayah yang telah dikuasai Daulah Abbasiyah mengalami kemajuan yang cukup pesat.

Perkembangan wilayah Islam tidak semata-mata karena ambisi memperluas wilayah kekuasaan. Para khalifah lebih peduli terhadap negeri tetangga yang ditindas oleh penguasanya, maka khalifah terpanggil untuk menyelamatkan mereka sekaligus menguasai wilayah tersebut. Seperti halnya Kerajaan Ghana yang beralih ke pangkuan Daulah Abbasiyah pada tahun 1067 M, sehingga menjadi negeri yang makmur.

Ketika Daulah Abbasiyyah yang berada di pimpin Khalifah Harun-al Rasyid (170 H/193 H-786 M/809 M), hubungan diplomatik terjalin baik dengan raja Charlemagne (Perancis). Sehingga hubungan kedua kerajaan tersebut harmonis. Khalifah Harun al- Rasyid memberikan kebebasan dalam bentuk jaminan keamanan bagi orang-orang Nasrani yang ingin berziarah ke Bait al-Maqdis. Hubungan tersebut sangat baik terutama dalam muamalah dan saling menghormati dalam menjalankan ibadahnya masing-masing. Hubungan tersebut berubah ketika kekuasaan kekhalifahan dipegang oleh orang-orang Turki. Orang-orang Turki yang memegang kekuasaan dan mempunyai pengaruh di Istana, sangat benci terhadap orang-orang Nasrani. Mereka kurang memberi toleransi terhadap penganut agama lain (Nasrani). Hal tersebut disebabkan sempitnya pemahaman mereka terhadap agama. Mereka mempersempit ijin bagi kaum Nasrani yang akan berziarah ke Bait al-Makdis, dengan cara meminta upeti yang cukup tinggi. Hal inilah yang di kemudian hari memunculkan benih-benih perang Salib.


Sumber: Kementrian Agama Republik Indonesia. 2019. Buku Siswa : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI. Jakarta.


Jumat, 24 Juli 2020

SEJARAH BERDIRINYA DINASTI ABBASIYAH




A.    Latar belakang terbentuknya dinasti abbasiyah
Abbasiyah berasal dari kata al-abbas , yaitu salah satu keturunan dari bani hasyim yang termasuk paman dari muhammad saw. Bani hasyim merupakan mitra politik bani umayyah sejak zaman jahiliyah sampai kelahiran islam, juga pada saat bani umayyah berkuasa.
Posisi bani hasyim tersingkir dalam pemerintahan setelah berakhirnya masa pemerintahan khulafaur rasyidin. Pemerintahan islam kemudian dikuasai oleh keluarga bani umayyah. Bani umayyah adalah kelompok keluarga besar atau bani yang didirikan oleh muawiyah bin abu sofyan.
Sementara itu keluarga bani hasyim berada pada posisi dibawah dan tidak berperan sedikitpun dalam peerintahan bani umayyah. Keluarga bani hasyim merasakan keadilan ketika pemerintahan bani umayyah dipimpin oleh khalifah kedelapan, yaitu umar bin abdul aziz. Beliau memang adil danmenghargai hak asasi manusia bagi rakyatnya.
Pada masa itu, tidak boleh seorangpun keluar dari garis undang-undang atau hukum negara. Kebiasaan mencela keluarga ali dilarang. Para pejabat yang melakukan kesalahan harus segera dilaporkan kepada mahkamah tertinggi yang diberi hak penuh untuk menghukum siapapun yang bersalah.
Langkah-langkah kebijakan khaalifah umar bin abdul aziz , yang memberlakukan persamaan hak bagi seluruh warganya, ternyata merupakan kesempatan bagi bani abbasyiah menyusun kekuatan untuk merebut kekuasaan dari bani umayyah.
Pada masa pemerintahan bani umayyah, kelompok yang paling gigih menentang adalah kaum khawarij dan kelompok syiah. Kelompok syiah bekerja sama dengan keturunan abbas, karena kedua kelompok ini merupakan keturunan hasyim. Perubahan sikap politik bani abbas ini dimotori oleh muhammad bin ali paada masa pada masa pemerintahan khalifah umar bin abdul aziz pada tahun 104 H/723 M. Dari muhammad bin ali lahirlah putra pertama bernama abdullah bin muhammad yang dikemudian hari terkenal dengan nama abu abbas as-safah, sebagai khalifah pertama dari daulah bani abbasiyah.
B.     Tokoh-tokoh yang berperan dalam pembentukan dinasti abbasiyah
1.      Langkah-langkah bani abbas untuk mendirikan daulah abbasiyah
a.       Membentuk gerakan bawah tanah
Tokoh yang berperan sebagai berikut.
1)      Muhammad bin Ali
2)      Ibrahim al-imam
3)      Abu muslim al-khurasani
b.      Menerapkan politik persahabatan , artinya keturunan abbas tidak menunjukan sikap permusuhan dengan pemerintahan bani umayyah.
c.       Dalam gerakannya meninggalkan nama bani abbas, tetapi bani hasyim. Tujuan dari penggunaan nama tersebut adalah agar mendapat dukungan dari kelompok pendukung ali bin abi thalib, karena berasal dari bani yang sama yaitu bani hasyim.
d.      Menetapkan wilayah khurasan sebagai pusat gerakan politik bani abbas dibawah pimpinan abu muslim al-khurasan.
2.      Silsilah bani abbasiyah
Para tokoh yang mempunyai peran penting dalam proses berdirinya daulah bani abbasiyah yaitu sebagai berikut:
a.       Ali bin Abdullah
Penggagas pembentukan Dinasti Abbasiyah
b.      Muhammad bin ali
Muhammad bin ali adalah tokoh utama pendiri daulah bani abbasiyah . beliau ini berhasil menghimpun kekuatan dan memiliki pengikut-pengikut yang setia, terutama didaerah khurasan.
c.       Ibrahim al Imam
Pemimpin gerakan perlawanan Dinasti Abbasiyah secara terang-terangan
d.      Abdullah bin Muhammad/ Abu Abbas Assafah
Abdullah bin muhammad bergelar abu abbas as-safah. Dia meneruskan usaha ayahnya dalam gerakan dakwah setelah berhasil menumbangkan khalifah marwan bin muhammad sebagai khalifah bani umayyah terakhir (132 H/750 M) . abu abbas as-safah adalah khalifah pertama dan dianggap sebagai pendiri kekhalifahan bani abbasiyah (132 – 136 M/750-754 H)
e.       Abu muslim al-khurasani
Abu muslim al-khurasan merupakan tokoh penting gerakan dakwah bani abbasiyah. Setelah kelompok abbasiyah cukup kuat kemudian menyerang bani umayyah didaerah tersebut, dibawah komando abu muslim al-khurasani sendiri. Gerakan ini berakhir setelah marwan bin muhammad dari bani umayyah tumbang tahun 132 H/750 M . gerakan abu muslim al-khurasani dimulai dari daerahnya sendiri, yaitu Khurasan. gubernur khurasan ketika itu dijabat oleh Nasr bin Syyar yang berasal dari suku arab Qaisy. Abu muslim al-khurasani bersekutu dengan suku arab yamani di khurasan yang dipimpin oleh al-kirmani untuk menurunkan gubernur Nasr bin Sayyar. Akhirnya abu muslim al-khurasani berhasil menduduki kota Merv dan Nisabur.  

Sumber: Kementrian Agama Republik Indonesia. 2019. Buku Siswa : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI. Jakarta.

Sabtu, 23 Februari 2019

KAMU YANG BELUM BISA MELUPAKAN

Dear kamu,

Kamu apa kabar? lama tidak bertatap dan bertemu. Semoga kamu baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja.
Mungkin sempat terlintas dibenakmu untuk apa aku hanya mewakilinya lewat kalimat-kalimat seperti ini. Sederhananya, lewat tulisan aku bisa mengedit setiap kali aku merasa ada yang salah sampai sekiranya pas untuk ku kirimkan. Dan sekiranya kamu bisa menerima dengan hati yang lapang. Yah, kamu tahu lah betapa kita harus berhati-hati dengan lidah yang tak bertulang ini, salah susunan kalimat saja bisa menjadi tafsir lain.
Kali ini kamu pasti bertanya prihal judul tulisan ini. Belum bisa melupakan? Melupakan apa? Melupakan siapa? Sebelum kamu semakin bingung, coba deh baca tulisanku yang sebelum ini tentang 'Kamu yang bertanya kapan aku wisuda?'. Tulisanku kali ini juga masih untuk kamu. Kamu yang istimewa. Kamu yang masih didera-dera revisi, kamu yang masih berdialektika dengan skripsi.
Kalian yang pernah mengalami drama tentang skripsi, pasti sepakat bahwa tidak semuanya memiliki akhir yang sama karena setiap pelakon memiliki titian yang berbeda. Seperti aku. Seperti dia. Seperti mereka. Dan seperti kamu.
Cerita ini bermula usai PPL dimana umumnya banyak yang mulai mengajukan judul skripsi. Dan tidak mau ketinggalan aku juga harus ikut moment mengajukan judul itu. Siang itu permohonanku ditolak karena tidak memiliki data, ada data-data yang harus aku lengkapi. Lalu, bulan November akhir aku kembali dengan data-data yang diminta bapak dosen. Jadilah aku diakhir November 2017 mendapatkan surat rekomendasi penjukan pembimbing dari wadek 3 (kayaknya) serta buku bimbingan yang masih cetakan (karena stelah itu buku bimbingan yang keluar foto copyan semua) Dan hari itu semua masih baik-baik saja, belum ada revisi, belum ada tatapan hampa di depan pintu dan belum ada tentengan map berat. Haha. Semua masih baik-baik saja. 
Lalu kubawa surat dari wadek 3 dan draft kerangka Skripsiku ke kantor Rektorat dibulan Januari 2018. Ya, Januari. Ternyata waktu begitu cepat berlalu dan aku masih belum melangkah dari musim PPL sampai mau musim KKN. Jadilah musim KKN yang indah itu tanpa ada Skripsi (kalau kalian pengen ceritaku pas KKN digunung, boleh kok dikesempatan yang lain bisa aku ceritain, hehe). Usai KKN akhir bulan Maret, aku ke Rektorat lagi menemui dosbim dan mengajukan lagi draft kerangka skripsi yang Januari kemarin tertolak. Akhirnya siang itu ACC dan langkah selanjutnya aku harus buat proposal.
Sudah bulan April saja dan tentu tetap mengerjakan proposalku, hanya masih sekenanya saja, karena waktu itu berbarengan dengan persiapan Olimpiade. Memasuki bulan Mei, aku mulai gugup, sudah mau Ramadhan, pasti godaannya lebih banyak kalau mau bimbingan. Jadilah aku mulai serius mengerjakan proposal skripsi, minimal sebelum lebaran sudah ACC. Dimbingkan, direvisi, dibimbingkan lagi sampai akhirnya ACC diakhir bulan Mei. Segera aku mendaftarkan diri jadi peserta Seminar Proposal (Sempro). 
Kemuadian pada pertengahan bulan Juli ada panggilan Sempro. Jadilah aku terkaget-kaget setelah liburan dan gak pernah buka file proposal malah dapat panggilan. Yasudahh jalani saja. Bagaimana nasib proposal ku? Jelas revisi lah haha. Meski revisinya sebenarnya banyak tapi jadi nyantai karena pengujinya friendly bangett, sambil nguji sambil ngobrol kesana kemari. Selepas sempro barulah terasa pusingnya, ini gimana ya ngrevisinya? Wkwk banyak banget. Saking pusingnya, setiap kali kepikiran revisi, aku mensugesti diri bahwa pikiran ini perlu istirahat. Perlu istirahat. 
Sampai akhirnya ada chatt masuk dari satu kawan 'aku udah daftar kompre' hah! kok aku ditinggal. Jadilah aku buka proposalku kembali, merevisi dan segera berburu tanda tangan penguji. Pada pertengahan Agustus mulailah drama-drama itu dimulai. Siang itu aku harus mendapatkan satu tanda tangan pengujiku lagi agar proposal ku 'sah'. Demi memenuhi waktu janjian tepat waktu, aku ijin dari tempat kerja dan segera menuju kampus. 15 menit lebih dari waktu janjian aku baru sampai dan beliau tidak ada diruangannya. Rasanya begitu hampa, siang yang begitu terik, deru nafas yang belum beraturan, tenggorokan yang masih kering dan pesan Whatsapp ku yang masih belum dibaca. Satu jam lebih ngemper didepan kantor akhirnya ada titik terang. Beliau memberi kabar bahwa sudah tidak di kampus. Bagus. Segera aku menuju rumah beliau yang dekat dari Bangsri. Haha. Jadi aku hanya olah raga jantung dari tadi, dari Bangsri-Tahunan terus balik lagi. Yo wislah, itung-itung nengok Kampus. Mungkin kalian bertanya gitu banget sampe ke rumah, besok kan bisa. Karena paginya beliau bakal dinas ke luar kota sampai 5 hari kedepan. Jadi, sore itu aku harus dapat tanda tangan beliau agar bisa segera mendaftar ujian kompre. Esoknya, aku kembali ke kampus dan melengkapi berkas-berkas pendaftaran ujian komprehensif.
Sambil menunggu panggilan ujian kompre, aku tetap mengerjakan skripsiku. Setiap hari Jum'at aku habiskan waktuku di Perpustakaan Pusat. Satu jam baca buku, satu jam browsing, setengah jam ngetik bener dan selebihnya adalah ngonrol sama temen. Haha. Kalau diterus-terusin sampai jadi mahasiswa dua digit mungkin sekripsinya baru kelar. Untunglah dari obrolan-obrolan itu, aku melihat bahwa teman-temanku mulai menunjukkan progress yang berarti. Jadilah ku kebut skripsian. Sebelum tidur skripsian, bagun tidur skripsian, pokoknya setiap ada waktu skripsian.
Sampai akhir September skripsiku belum juga ACC. Aku menyerah. Sudah tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Draft skripsiku sudah ada di meja pembimbing. Semua hanya tinggal restu dosen dan ridho Allah. Dalam masa menunggu itu hatiku semakin tidak karuan karena teman-temanku mulai dapat panggilan sidang Munaqosyah sementara skripsiku masih apa kabar. Bahkan di hari kamis awal bulan Oktober, sidang terahir untuk wisuda bulan Oktober skripsiku masih direvisi. Siang itu aku bertekat hari ini harus ACC. Stengah empat sebelum jam bimbingan ditutup aku segera menuju Rektorat dan mengajukan lagi dan Alhamdulillah di ACC sama bapak dosbim. Udah lega? Belum. Esoknya aku segera mengurus pendaftaran sidang Munaqosyah dan petugasnya bilang sudah tidak ada sidang Munaqosyah untuk wisuda Oktober. Ah, nyaris saja. Rasanya semua penyesalan begitu terasa menyakitkan.
Lalu ada info soal pelaksanaan wisuda yang diundur sampai November. Rasanya ada harapan, lalu kusemangati kawan-kawan untuk segera menuntaskan Skripsinya sambil memotivasi bahwa akan selalu ada kemungkinan. Sampai dua minggu sebelum pelaksanaan wisuda, ternyata tidak ada panggilan Munaqosyah. Hah, ternyata benar hari itu adalah sidang terakhir. Sakit, kecewa tentu saja. Tapi semua sudah terjadi dan ini adalah buah dari usaha terbaikku stelah aku sadar telah membuang-buang waktu. Aku gagal menuntaskannya tepat waktu.
Dan penantian itu sangat lamaa sampai aku lupa saat akhirnya aku dipanggil untuk sidang Munaqosyah dibulan Desember 2018 kemarin. Dua bulan lebih dan aku tidak pernah membukanya karena masih belum bisa melupakan, sampai akhirnya separuh dari isinya hampir saja kulupakan. Harus dibuka lagi, dibaca lagi dan dipelajari lagi. Tepat di hari H itu, aku bersama temen-temen yang bernasib sama sepertiku (yang nyaris saja) di SIDANG. Aku sudah gusar sejak semalam karen dosen pengujiku adalah supermen. Eh bukan. Dosen pengujiku adalah bapak dosen. Haha gak bisa disampein dengan kata-kata. Pengujiku adalah orang-orang keren sampai aku gak bisa berkata-kata.
Akhirnya siang itu, semua peserta sidang hari itu dinyatakan lulus dan aku juga termasuk. Tapi aku tidak bisa tersenyum lega karena draft skripsiku banyak sekali kenang-kenangannya dari masing-masing penguji. Iya, bahkan sesuatu yang kamu anggap terakhir masih saja ada revisi.  Satu bulan aku perbaiki skripsiku. Dan masih saja ada drama-dramanya. Sempat ditolak penguji dua karena belum kepenguji satu. Lalu pas dipenguji satu sempat ditolak karena lupa gak bawa kenang-kenangannya pas sidang dan aku harus balik dengan tangan hampa. Haha dan semua itu adalah bumbu. Dan bener dari cerita temen-temen yang pernah main drama-dramaan sama skripsi pasti punya cerita yang beda-beda. Dan ceritaku ini tentu bukan apa-apa, karena masih banyak cerita-cerita ngeselin yang dialami temen-temen yang lain.
Dan, dari ceritaku ini aku ingin berpesan (biar ada faedahnya hehe) bahwa skripsi itu mudah, dikerjakan saja, gak usah mikir nanti sama dosen bakal gimana-gimana, toh gak ada skripsi yang benar-benar sempurna. Kalau kamu terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pasti, gak bakal selesai karena itu diluar batas kemampuan kamu. Kamu hanya perlu mengerjakan, bimbingkan, direvisi ya dikerjakan lagi, bimbingkan lagi dan seterusnya. Jalan terus, karena revisi pasti akan selalu ada.
Udah sih gitu aja ceritaku kali ini. Dan aku ingetin lagi stelah kamu baca ini, balik ke tulisan aku yang sebelumnya ya, yang 'Kamu yang bertanya kapan aku wisuda?' hehe. Terimakasih sudah menyisihkan menit-menit yang berharga kalian. Aku pamit yaa.