Rabu, 29 Januari 2025

MUNCULNYA GERAKAN PEMBARUAN DALAM ISLAM

 

Berada di bawah tekanan imperialisme Barat tidak sepenuhnya memberikan dampak negatif kepada umat Islam. Banyak pelajaran berharga yang didapatkan oleh umat Islam dari pengaruh dan tekanan peradaban Barat yang sedemikian maju, dari sinilah muncul gerakan-gerakan yang berusaha untuk mewujudkan peradaban modern dengan meninjau kembali ajaran-ajaran Islam dan memunculkan pembaruan-pembaruan dalam sendi keagamaan. Selain itu, semangat umat Islam untuk mengobarkan kebanggaan Islam yang pernah jaya mulai bangkit kembali.

Kebangkitan Islam adalah kristalisasi kesadaran keimanan dalam membangun tatanan seluruh aspek kehidupan yang sesuai dengan prinsip Islam. Artinya, kewajiban bagi umat Islam untuk mewujudkannya melalui gerakan-gerakan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Upaya untuk memulihkan kembali kejayaan Islam dikenal dengan Gerakan Pembaruan.

Diantara kelompok pembaharu, mereka meniru pola dan sistem pendidikan  yang diterapkan oleh bangsa Barat dalam mengembangkan sains dan teknologi. Gerakan ini dipelopori oleh Sultan Mahmud II dari Turki Usmani, Sayyid Ahmad Khan dari India, dan Muhammad Ali Pasya di Mesir.

Kelompok modernis lainnya menggagas pembaruan yang berpola terhadap penyebab kemunduran umat Islam, karena meninggalkan ajaran-ajaran Islam. Kelompok ini mengajak umat Muslim untuk kembali pada al-Qur’an dan Sunnah, dengan tidak mengabaikan ijtihad. Ijtihad senantiasa diperlukan sebagai upaya penyesuaian ajaran Islam dengan perkembangan zaman. Di antara tokoh gerakan ini adalah Jamaluddin al- Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha.

Gagasan pembaruan yang berorientasi terhadap nasionalisme mendasar bahwa umat Islam itu terdiri dari berbagai bangsa, yang hidup di daerah dan lingkungan budaya yang berbeda-beda, sehingga memerlukan usaha pengembangan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Gerakan modernisasi lainnya adalah gagasan pembaruan yang berorientasi pada nasionalisme. Hal ini berdasar pada kenyataan bahwa umat Islam terdiri dari berbagai bangsa dengan kebudayaan yang beraneka ragam. Gerakan nasionalisme ini eksis diberbagai negara yang menghadapi permasalahan spesifik tentang kekuasaan Eropa, dan peduli terhadap permasalahan dalam negeri mereka masing-masing, dan berupaya bebas dari kolonialisme bangsa Eropa

Gagasan nasionalisme membantu mempermudah umat Islam untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Negara mayoritas muslim yang pertama kali memerdekakan diri adalah Indonesia, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada tahun 1946, Syiria, Jordania, dan Libanon. Pakistan, pada tanggal 15 Agustus 1947. Pada  tahun 1951, Libya berhasil memerdekakan diri. Adapun Mesir baru menganggap dirinya benar-benar merdeka pada tanggal 23 Juli 1952 (setelah Raja Faruk digulingkan), meskipun sebenarnya Mesir telah bebas dari Inggris sejak tahun 1922.

Sudan dan Maroko merdeka pada tahun 1956, Malaysia (termasuk Singapura) merdeka dari Inggris pada tahun 1957, Irak baru merdeka pada tahun 1958, sedangkan Aljazair pada tahun 1962, dan Brunei Darussalam baru merdeka pada tahun 1984. Negara-negara Islam yang dulunya berafiliasi dengan Uni Soviet seperti Uzbekistan, Turkmenia, Kirghistan, Kazakhtan, Tasjikistan, dan Azerbeijan, baru merasakan kemerdekaan pada tahun 1992.

Link vidio pembelajaran Gerakan Pembaruan dalam Islam

Sumber: Kementrian Agama Republik Indonesia. 2019. Buku Siswa : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI. Jakarta.

PENJAJAHAN BANGSA BARAT ATAS DUNIA ISLAM

 

Kebangkitan bangsa Barat bemula dari semangat keilmuan yang begitu tinggi, telah membawa bangsa Barat pada penemuan-penemuan baru dan banyak melakukan penjelajahan samudera, serta revolusi industri hingga berakibat pada imperialisme terhadap bangsa-bangsa Islam pada khususnya.

Perjalanan bangsa Barat ke Timur Tengah dimulai ketika Daulah Usmani mengalami kemunduran sementara bangsa-bangsa Barat mulai mengalami kemajuan di segala bidang, seperti perdagangan, ekonomi, industri perang dan teknologi militer. Meskipun demikian, nama besar Turki Usmani masih disegani oleh Eropa sehingga mereka tidak melakukan penyerangan ke wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan Islam. Namun, kekalahan besar Kerajaan Usmani dalam menghadapi serangan bangsa Eropa di Wina tahun 1683 M membangkitkan kesadaran bangsa Barat bahwa Turki Usmani telah melakukan perubahan-perubahan

Ekspedisi Inggris, Portugis, Belanda, dan Spanyol dari abad ke 15 sampai 19 M di kawasan perdagangan internasional Malaka, Gujarat, dan lainnya, telah membuka mata mereka terhadap bangsa-bangsa Islam.

Misi politik untuk menguasai negara-negara Islam digalakkan dengan devide et impera (politik pecah belah), yaitu penjajah dengan segala cara menciptakan pemisah antara kaum bangsawan dan rakyat kecil. Demikian halnya antara satu penguasa dan penguasa negara Islam yang lain.

Setelah bangsa Barat menguasai ekonomi dan politik negara-negara Islam, terdapat pula negara Barat yang menjajah dunia Islam dengan melakukan penyebaran agama Kristen melalui missionaris atau zending.

Bangsa Barat yang memiliki ketiga motivasi ini adalah Spanyol dan Portugis. Hal terebut tercermin pada semboyan mereka, yaitu Gold (semangat untuk mencari keuntungan), Glory (Semangat untuk mencapai kejayaan dalam bidang kekuasaan), dan Gospel (semangat untuk menyebarkan agama Kristen di negara Islam yang dijajah).

Imperialisme bangsa Barat telah berdampak luas kepada hampir seluruh negara- negara muslim. Negara-negara Islam yang pertama kali dikuasai oleh Barat adalah negara-negara Islam di Asia Tenggara dan di Anak Benua India. Sedangkan negara- negara Islam di Timur Tengah, yang masih berada di bawah kekuasaan kerajaan  Usmani, baru berhasil ditaklukkan pada masa berikutnya.

Dengan peresenjataan yang lebih modern, bangsa Eropa mampu menguasai daerah-daerah kekuasaan Islam. Bangsa-bangsa Eropa menjajah satu demi satu negara Islam.

Perancis menduduki Aljazair pada tahun 1830, dan merebut Aden dari Inggris pada tahun 1839. Tunisia ditaklukkan Perancis pada tahun 1881, Mesir dijajah oleh Inggris (1882 M), Sudan dijajah oleh Inggris pada tahun 1889, Maroko dijajah oleh Perancis tahun 1911 M, Libya dijajah oleh Italia tahun 1911 M. Sementara itu, wilayah Islam di Asia Tengah juga tak luput dari penjajahan Barat.

Wilayah Jazirah Arab juga tidak luput dari sasaran penjajahan. Suriah dan Lebanon juga pernah dikuasai oleh Perancis (1918 M), Palestina dan Yordania juga pernah dikuasai oleh Inggris. Di belahan belahan bumi lainnya, Rusia menjajah wilayah Islam di Asia Tengah, seperti Kaukasia (1834-1859), Samarkand dan Bukhara (1866- 1872), dan Uzbekistan (1873-1887). Hal tersebut merupakan imbas dari perjanjian San Stefano dan perjanjian Berlin antara Rusia dan Turki Usmani.

Demikianlah, Islam mengalami krisis berkepanjangan, ditambah rongrongan bangsa-bangsa kapitalis yang merusak seluruh tatanan politik, ekonomi, sosial dan budaya hingga moralitas bangsa-bangsa Islam. Hal ini tentunya berdampak terhadap kebudayaan dan perabadan bangsa-bangsa Islam yang telah dibangun dengan susah payah penuh perjuangan. Dinamika keislaman menjadi mati suri di bawah pengaruh imperialisme bangsa Barat.

 Link Vidio Pembelajaran Materi Penjajahan Bangsa Barat atas Dunia Islam

Sumber: Kementrian Agama Republik Indonesia. 2019. Buku Siswa : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI. Jakarta.

KEMUNDURAN DAULAH UMAYYAH DI ANDALUSIA

Masyarakat Andalusia masih menganggap kehadiran Islam di Negara mereka merupakan ancaman dan juga penjajah bagi mereka, keadaan ini memperkuat nasionalisme masyarakat Kristen Andalusia. Akhirnya setelah kurun waktu tujuh setengah abad Daulah Umayyah berkuasa mulai mengalami masa kelemahan, disamping faktor diatas ada beberapa faktor yang menjadi penyebab runtuhnya Daulah Umayyah di Andalusia:

1.      Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan

Tidak adanya peraturan tentang pola pemilihan dan pengalihan kepemimpinan menyebabkan perebutan kekuasaan diantara ahli waris. Sistem monarki membuat masing-masing ahli waris merasa berhak untuk menjabat sebagai pemimpin setiap ada kekosongan kepemimpinan. Karena faktor itulah muncul kerajaan-kerajaan dan kekuatan kecil di sekitar Andalusia, munculnya Muluk at-Tawaif ini juga yang memperparah keadaan sehingga Granada sebagai pusat kekuasaan Islam terakhir di Andalusia, jatuh ketangan Ferdinand dan Isabella.

2.      Tidak adanya Ideologi Pemersatu

Orang-orang pribumi enggan untuk menerima para muallaf menjadi bagian dari mereka. Akibatnya kelompok etnis non Arab sperti etnis Salvia dan Barbar sering menggrogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosial dan ekonomi negeri tersebut, ini menunjukan tidak adanya idiologi yang member makna persatuan, disamping juga tidak adanya figure yang menjadi pengaut idiologi tersebut.

3.      Keterpurukan Ekonomi

Kegigihan para penguasa mengembangkan ilmu pengetahuan dan sedikit mengabaikan perkembangan perekonomian mengakibatkan timbul kesulitas ekonomi yang memberatkan dan berpengaruh terhadap perkembangan politik dan militer.

4.      Terasing

Islam di Andalusia bagaikan negeri kecil yang terpencil dan terasing, ia jarang mendapatkan perhatian dan bantuan kecuali dari Afrika Utara. Hal ini mengakibatkan tidak ada yang membantu membendung kebangkitan Kristen di wilayah Andalusia. Kekuatan Kristen inilah yang lambat laun mulai menggrogoti Islam di Andalusia.

 

Sumber:

Kementrian Agama Republik Indonesia. 2019. Buku Siswa : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X. Jakarta.


PERKEMBANGAN PERADABAN DAN ILMU PENGETAHUAN MASA DAULAH UMAYYAH DI ANDALUSIA

Abdurrahman ad-Dakhil berhasil meletakkan sendi dasar yang kokoh bagi tegaknya Daulah Umayyah di Andalusia. Selama kurang lebih 32 tahun masa pemerintahannya ia mampu mengatasi berbagai tekanan dan ancaman dari dalam negeri maupun serangan dari luar. Karena ketangguhannya itu ia dijuluki Rajawali Quraisy.

Daulah Umayyah di Andalusia yang dipelopori oleh Abdurrahman Ad-Dakhil berhasil mengalami masa kejayaan selama kurun waktu tujuh setengah abad (756-1492 M) dengan amir-amir sebagai berikut:

1.      Abdurrahman Ad-Dakhil (756-788 M)

2.      Hisyam bin Abdurrahman (788-796 M)

3.      Al-Hakim bin Hisyam (796-822 M)

4.      Abdurrahman al-Ausath (822-852 M)

5.      Muhammad bin Abdurrahman (852-886 M)

6.      Munzir bin Abdurrahman (886-912 M)

7.      Abdurrahman an-Nasir (912-961 M)

8.      Hakam al-Muntasir (961-976 M)

9.      Hisyam II (976-1009 M)

10.  Muhammad II (1009-1010 M)

11.  Sulaiman (1013-1016 M)

12.  Abdurrahman IV (1016-1018 M)

13.  Abdurrahman V (1018-1023 M)

14.  Muhammmad III (1023-1025 M)

15.  Hisyam III (1027-1031 M)

Amir-amir tersebut berkuasa dengan pembagian beberapa periode, dimana periode pertama di mulai sejak Andalusia dikuasai pada masa Daulah Umayyah berpusat di Damaskus. Penguasa Andalusia pada periode kedua adalah, Abdurrrahman Ad-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abdurrahman al-Ausatth, Muhammad bin Abdurrahman, Munzir bin Muhammad dan Abdullah bin Muhammad. Pada periode kedua ini, Daulah Umayyah mengalami kemajuan dalam berbagai bidang.

Periode ketiga berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar an-Nasir. Pada periode ini penguasa mulai memakai gelar Khalifah, khalifah yang memimpin pada periode ketiga ini adalah Abdurrahman an-Nasir, Hakam II dan Hisyam II. Pada perode ini Daulah Umayyah Andalusia mengalami puncak kejayaan menyaingi peradaban Daulah Abbasiyah di Baghdad. Abdurrahman an-Nasir membangun universitas Cordoba dilengkapi dengan perpustakaan yang mempunyai koleksi ribuan buku, pembangunan kota berlangsung sangat cepat, masyarakat mendapatkan kesejahteraan dan kemakmurannya.

Periode keempat terjadi antara tahun 1013-1086 dimana mulai terlihat melemah karena terpecah-pecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil (Mulk at Thawaif) di bawah pemerintahan raja-raja golongan yang berpusat di Seville. Munculnya Mulk at Thawaif ini sangat berpengaruh terhadap eksistensi Daulah Umayyah.

Periode kelima berlangsung dari tahun 1086-1248, pada periode ini muncul kekuatan yang dominan yaitu Daulah Murabithun yang berasal dari Afrika Utara yang sedikit banyak membantu umat Islam di Andalusia dari serangan orang-orang Kristen.

Periode keenam berlangsung dari tahun 1248-1492, pada periode ini kekuasaan Islam hanya di daerah Granada yaitu di bawah kekuasaan Bani Ahmar. Peradaban ini dibangun kembali sehingga sempat mengalami kemajuan seperti pada pemerintahan Abdurrahman an-Nasir. Namun secara politik jangkauan daulah ini hanya berkuasa di wilayah yang sangat kecil, sehingga berakhirlah kekuasaan Daulah Umayyah di Andalusia pada periode keenam.

Selama kurang lebih tujuh setengah abad Daulah Umayyah di Andalusia (Spanyol) berkuasa, banyak prestasi dan kemajuan yang sudah dicapai, bahkan pengaruhnya membawa Eropa kepada kemajuan. Puncak kejayaan Islam di Andalusia terjadi pada periode ketiga (912-1013 M) dimulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang brgelar an-Nasir, pada periode ini Islam di Andalusia mencapai puncak kejayaan dan kemajuan, menyaingi kejayaan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Kemajuan-kemajuan tersebut antara lain:

1.      Ilmu Pengetahuan dan Sains

Spanyol adalah kota yang subur, kesuburannya mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan banyak menghasilkan pemikir-pemikir berkualitas. Masyarakat muslim Spanyol merupakan masyarakat yang majemuk terdiri dari berbagai komunitas, antara lain; al-Muwalladun (orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (orang Islam yang berasal dari Afrika Utara), ash-Shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Burgaria yang menjadi tawanan Jerman dan kemudian dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab. Semua komunitas itu memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra dan pembangunan fisik di Spanyol. Kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang dicapai pada masa ini, antara lain:

a.       Filsafat

Atas inisiatif Hakam II, karya-karya ilmiah dan filsafat diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordoba dengan perpustakaan dan universitasnya yang lengkap mampu menyaingi kemajuan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Tokoh pertama dalam sejarah Filsafat Spanyol adalah Abu Bakar Muhammad ibn as- Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibnu Bajah, ia tinggal di Granada dengan karyanya yang terkenal tadbir al-Mutawahid. Pada masa itu di Timur ada al-Farabi dan Ibnu Sina.

Tokoh kedua adalah Abu bakar Ibnu Tufail yang berasal dari Wady sebuah kota kecil di Timur Granada, ia banyak menulis masalah filsafat, astronomi dan juga kedokteran. Karya filsafatnya yang terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan. Tokoh lain yaitu Ibu Rusyd dari Cordoba, yang menjadi ciri khas dari Ibnu Rusyd adalah kecermatannya dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Karya-karyanya yang terkenal adalah Mabadi Falasifah, Kulliyat, Tafsir Urjuza, Kasfu Afillah. Selain ahli filsafat, ia juga seorang ahli Fikih dengan karya besarnya Bidayah al-Mujtahid, dan karya dalam bidang kedokteran dengan judul al-Hawi.

b.      Sains

Dalam hal sains pada masa ini banyak bermunculan ilmu-ilmu seperti; kedokteran, matematika, kimia, astronomi, dan geografi. Abbas ibn Fams terkenal sebagai ahli dalam ilmu kimia dan astronomi sekaligus sebagai orang yang pertama kali menemukan pembuatan kaca dari batu. Ahmad bin Ibas ahli dalam bidang obat-obatan, dalam ilmu Geografi ilmuwan yang terkenal adalah Ibu Jubair yang menulis tentang Negeri-negeri Muslim Mediterania dan Sicilia. Ibnu Batutah juga salah satu ilmuwan yang terkenal hingga Samudra Pasai dan Cina.

Dalam bidang matematika, melalui buku terjemahan karya Ibrahim al-Fazari, seorang pakar matematika bernama Nasawi berhasil memperkenalkan angka-angka India seperti 0,1,2 hingga 9, hingga angka-angka India di Eropa lebih dikenal dengan angka Arab. Para ahli dalam bidang kedokteran antara lain:

1.      Thabib ibn Qurra’ ia dianggap sebagai bapak ilmu Kimia

2.      Ar-Razi atau Razes, karyanya yang terkenal dalam bidang penyakit campak dan cacar yang diterjemahkan dalam bahasa latin

3.      Ibnu Sina, di Eropa disebut dengan Avicena, selain sebagai filosof juga seorang dokter dan ahli musik. Karyanya yang terkenal adalah Shafa, Najat, Sadidiya, Danes Nomeh dan al-Qanuun fi at-Thib (buku tentang kedokteran yang diterjemahkan kedalam bahasa latin).

c.       Fikih

Dalam bidang fikih, Islam di Spanyol menganut Madzhab Maliki yang diperkenalkan pertama kali oleh Ziyad bin Abd ar-Rahman. Dalam perkembangannya dipegang oleh seorang Qadhi yaitu Ibnu Yahya. Ahli-ahli Fiqh lainnya adalah Abu Bakar ibn al-Quthiyah, Munzir ibn Said al-Baluthi dan Hazm.

d.    Sejarah

Orang yang pertama kali mengemukakan teori perkembangan sejarah adalah Ibnu Khaldun melalui karyanya yang berjudul Muqaddimah. Buku ini menjadi tumpuan studi ilmuwan-ilmuwan barat, beliau juga merupakan perumus filsafat sejarah. Karya-karya Ibu Khaldun mampu memberikan sumbangan dan pengaruh dalam pemikiran-pemikiran ilmuwan barat. Ahli sejarah lainnya adalah Yahya bin Hakam seorang penyair yang dikenal dengan al-Gazzal, juga Abu Bakar Ibn Muhammad yang terkenal dengan Ibn al-Quthiyah dengan karyanya berjudul Tarikh Iftitah al- Andalus memiliki nilai tersendiri, karena penafsirannya mengenai peristiwa- peristiwa di Spanyol yang sebelumnya tidak diketahui oleh orang Arab.

2.      Peradaban dan Pembangunan

Banyaknya peninggalan monumental yang hingga sekarang masih bisa dilihat, menjadi saksi sejarah akan perhatian yang sangat besar dari pemerintahan Daulah Umayyah Andalusia terhadap kemajuan pembangunan fisik, salah satunya adalah sebagai berikut:

a.       Cordoba

Cordoba merupakan ibukota Spanyol sebelum Islam, yang kemudian dikuasai oleh Daulah Umayyah. Kota ini dibangun dan diperindah. Taman dan jembatan dibangun dengan indah di atas sungai yang mengalir di tengah kota. Di sekitar ibukota berdiri istana-istana megah yang semakin mempercantik kota Cordoba. Di Cordoba  dibangun  masjid  raya  Cordoba,  ada  juga  Istana  Damsyik  disana.

Keindahan Cordoba semakin nyata manakala fasilitas-fasilitas umum dibangun dengan rapih dan dilengkapi dengan saluran air yang panjangnya mencapai 80 km. terdapat juga Al-Qasr al-Kabir yang didalamnya terdapat gedung-gedung istana yang megah, Rushafat, merupakan Istana yang dikelilingi oleh taman yang berada disebelah barat laut Cordoba.

b.      Granada

Granada merupakan pusat pertahanan terakhir umat Islam di Spanyol. Arsitektur bangunannya sangat terkenal di seluruh Eropa. Disana terdapat Istana al-Hambra yang indah dan megah merupakan pusat dan puncak ketinggian arsitektur di Spanyol kala itu. Kisah tentang kemajuan seni arsitektur terlihat juga dengan bangunan istana-istana megah lainnya seperti, Istana al-Gaza, Menara Girilda, al- Zahra kota satelit di bukit Sierra Monera, kota ini dilengkapi dengan masjid tanpa atap dan air mengalir ditengah masjid sangat unik dan indah.

Kemajuan yang dicapai di Andalusia bukan datang dengan tiba-tiba, melainkan banyak faktor yang menjadi pendukungnya, yaitu:

1.      Heterogenitas komposisi masyarakat tadi Andalusia mendorong terciptanya iklim intelektual yang maju. Islam datang dengan semangat toleransi yang begitu tinggi, dengan semangat itu telah mengakhiri kezaliman keagamaan yang sudah berlangsung sebelumnya.

2.      Adanya semangat kesatuan budaya Islam yang timbul pada pemikiran ulama dan para ilmuwan.

3.      Persaiangan antara Mulk at-Tawaif (kerajaan-kerajaan kecil) justru menyebabkan perkembangan peradaban di sekitar Cordoba. Semuanya bersaing ingin menandingi Cordoba dalam hal ilmu pengetahuan, satra, seni dan kebudayaan.

4.      Adanya dorongan dari para penguasa yang mempelopori kegiatan ilmiyah, sehingga muncul ilmuwan-ilmuwan yang kompeten dalam bidangnya.

 

Sumber:

Kementrian Agama Republik Indonesia. 2019. Buku Siswa : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X. Jakarta.

SEJARAH LAHIRNYA DAULAH UMAYYAH DI ANDALUSIA

 

Masuknya Islam ke Andalusia menjadi angin segar bagi perkembangan Islam sekaligus menjadi awal masuknya Islam ke beberapa wilayah lainnya seperti Cordoba, Granada dan Toledo, ibukota pemerintahan Spanyol. Penaklukkan Andalusia ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M) yang merupakan khalifah ke enam Daulah Umayyah di Damaskus. Jatuhnya Andalusia dan beberapa kota penting di negeri itu, membuka jalan baru bagi upaya umat Islam untuk menyebarkan Islam ke seluruh Eropa. Secara singkat dapat dijabarkan proses lahirnya Daulah Umayyah di Andalusia sebagai berikut:

1.      Penaklukan Andalusia

Sebelum Islam masuk ke Andalusia, Islam sudah telebih dahulu berkembang di Afrika Utara. Afrika Utara dijadikan sebagai salah satu provinsi dari Daulah  Umayyah di Damaskus. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara terjadi pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M). pada perkembangan selanjutnya ditunjuklah  Musa  bin  Nusair sebagai  gubernur  di  Afrika  Utara. Sebelum dikuasai Islam, kawasan Afrika Utara telah menjadi basis kekuasaan Kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothic.

Setelah kawasan Afrika Utara benar-benar dapat dikuasai Islam dan menyatakan kesetiaannya terhadap pemerintahan Musa bin Nusair, umat Islam mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukan Andalusia. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi pasukan muslim untuk menaklukan Andalusia.

Proses penaklukan Andalusia melalui tahapan yang sangat panjang. Musa bin Nusair sebagai Gubernur Afrika Utara mengutus Tharif bin Malik untuk menyelidiki keadaan Andalusia saat itu. Tharif membawa pasukan perang dan 500 pasukan berkuda dan melintasi selat yang terletak diantara Maroko dan Benua Eropa. Dalam ekspedisi ini Tharif dibantu oleh Raja Julian dengan menaiki empat buah kapal milik Raja Julian, dan sukses tanpa perlawanan yang berarti.

Melihat keberhasilan Tharif bin Malik dan pasukannya, maka Musa Bin Nusair kembali melakukan ekspedisi ke Spanyol dengan membawa pasukan dalam jumlah yang lebih besar, yaitu 7000 ribu pasukan di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Pasukan Thariq bin Ziyad sebagian besar terdiri dari suku Bar-bar yang didukukng oleh Musa bin Nusair dan orang-orang Arab yang dikirim oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik.

Thariq bin Ziyad membawa pasukannya menyebrangi selat yang kemudian terkenal dengan selat Gibraltar (Jabal Thariq). Thariq berhasil dengan gemilang dan berturut-turut berhasil menaklukan berbagai wilayah penting di Eropa seperti Cordoba, Granada dan Toledo (ibukota kerajaan Gothic saat itu).

Dengan ditaklukkannya Andalusia, maka periode pertama Pemerintahan Daulah Umayyah Andalusia dimulai, dengan pusat pemerintahan di Damaskus. Periode pertama ini Andalusia berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Daulah Umayyah yang masih berpusat di Damaskus.

Pada periode pertama ini, situsai politik dan perekonomian belum tertata dengan baik. Sering terjadi konflik internal yang mengakibatkan melambatnya kemajuan di segala bidang. Konflik internal yang terjadi disebabkan antara lain oleh perbedaan etnis dan golongan juga terdapat perbedaan pandangan antara khalifah yang berpusat di Damaskus dengan Gubernur Afrika Utara. Periode pertama ini, Islam di Andalusia belum memasuki kegiatan pembangunan dalam bidang peradaban dan kebudayaan.

2.      Peran Abdurrahman I

Keruntuhan Daulah Umayyah di Damaskus dan digantikan oleh Daulah Abbasiyah di Baghdad, menyisakan satu orang keturunan dari Daulah Umayyah yaitu Abdurrahman I yang bergelar ad-Dakhil. Abdurrahman ad-Dakhil berhasil lolos dari kejaran tentara Bani Abbasiyah yang berhasil menaklukkan Daulah Umayyah di Damaskus.

Islam mulai babak baru dengan datangnya Abdurrahman ad-Dakhil ke Andalusia. Abdurrahman mengambil kekuasaan di Andalusia pada masa Gubernur Yusuf al-Fihr. Ia kemudian memproklamirkan berdirinya Daulah Umayyah di Andalusia sebagai kelanjutan dari Daulah Umayyah di Damaskus. Oleh ahli sejarah periode ini disebut dengan periode kedua pemerintahan Daulah Umayyah, periode kedua ini terjadi  antara tahun 755-912 M.

Pada periode ini umat Islam dibawah kekuasaan para Amir dan mulai memperoleh kemajuan, baik dalam bidang politik maupun peradaban. Amir pertama pada periode kedua ini adalah Abdurrahman ad-Dakhil. Ia berhasil membawa kegemilangan Islam dan sukses mendirikan masjid Cordoba dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Andalusia.

 

Sumber:

Kementrian Agama Republik Indonesia. 2019. Buku Siswa : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X. Jakarta.